Menoupose dalam Organisasi Pemuda

Tuesday, April 13, 2010 ·

Jika saya boleh gambarkan pemuda jaman sekarang, kata-kata tersebut dapat mewakilinya. Peranan pemuda dari waktu kewaktu semakin tergerus dalam kehidupan sosial di Indonesia. Apakah itu akibat bumi yang semakin tua, ataukah pengaruh waktu yang kian cepat berlalu?. Pemudalah yang akan menjawab pertanyaan tersebut, karena Soekarno pernah memberi suatu pengobaran semangat pejuang muda pada masa perjuangan, “Berikan aku sepuluh pemuda niscaya akan ku guncang dunia”. Suatu kalimat yang patut direnungkan bagaimana semangat pemuda itu diharapkan oleh bangsanya.
Peranan pemuda dalam kehidupan sosial, tentu kita masih ingat tentang bagaimana persatuan dan kesatuan Indonesia ini dapat tercapai. Terinspirasi oleh perjuangan Gajah Mada yang dapat mempersatukan nusantara, maka pemuda Indonesia lewat organisasi ”JONG-JONG”-nya mereka merumuskan bagaimana seharusnya suatu bangsa itu dapat hidup dalam keragaman, yang pada puncaknya pemuda mencetuskan suatu kovensi ‘Sumpah Pemuda’ pada tangal 28 oktober 1928. Perjuangan sebelum Sumpah Pemuda pun sudah terbukti dalam catatan sejarah bahwa pemuda Indonesia mempunyai peranan yang sangat besar untuk mendesak keberadaan penjajah. Melalui organisasi dan tulisan-tulisan, mereka berjuang untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Budi Utomo telah menjadi bukti perjuangan pemuda kala itu, dimana perananya menjadi pelopor organisasi pemuda yang berjuang demi tujuan bangsa.
Perjuangan pemuda kala itu tetap dipertahankan, tanpa mengenal lelah perjuangan Soekarno muda tetap diteruskan oleh generasi penerusnya. Pada tangal 16 Agustus 1945 dimana Soekarno muda yang gigih memperjuangkan nasib bangsanya mulali terkoyak dengan janji-janji Jepang untuk menungu kemerdekaan Indonesia yang akan diperoleh ketika perang dunia II berakahir. Pemuda dengan sigapnya menyikapi keadaan tersebut dengan mendesak para pendiri bangsa, untuk segera memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia, karena pemuda mengerti bahwa kemerdekaan merupakan hasil perjuangan seluruh bangsa sejak lama, bukan pemberian dari Jepang. Setelah desakan itulah para pendiri bangsa memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Kemerdekaan sudah direngkuh oleh bangsa Indonesia, maka semangat pemuda dalam kehidupan sosial berbangsa dan bernegara bukan lagi merebut kemerdekaan bangsa namun bagaimana mengisi kemerdekaan tersebut. Peranan pemuda dalam mengisi kemeerdekaan tetap menjadi ujung tombak negara, tidak hanya dalam dunia politik praktis namun dibidang perekonomian pemuda Indonesia menunjukan perananya. Salah satu peranan pemuda dalam politik praktis Indonesia setelah kemerdekaan salah satunya dibuktikan oleh Tan Malaka. Tan Malaka, ketika berumur 45 tahun yang masih memiliki semangat pemuda pada masa itu, berani menentang hasil perjanjian Lingarjati. Bersama dengan teman-temanya, Tan Malaka dengan hasil kongres di solo, “Minimum Program” suatu progra yang meminta pengakuan kemerdekaan Indonesia tanpa tekanan dari pihak manapun.
Ketika perekonomian Indonesia mengalami gejolak yang berarti (1945-1949), munculah pemuda AK Gani yang menjabat sebagai ekonom yang ternama menawarkan suatu pilihan untuk membuka diri kepada negara luar, untuk melakukan penanaman modal asing. Selain itu terdapat, M Hatta dengan prinsip koperasianya di sektor primary (pertanian, perikanan dan peternakan) berhasil mengatasi gejolak tersebut, meski tidak dipungkiri dengan bantuan dunia perbankan dan pemerintah Indonesia.
Periode selanjutnya pemuda sudah mengalami pendegradasian. Dapat dilihat dalam rezim Soeharto peranan pemuda sudah tidak dapat dilihat di permukaan dunia sosial masyarkat Indonesia. Layaknya sapi yang dikebiiri, peranan pemuda sangat terisolasi. Banyak kebebasan pemuda untuk bersuara diawasi dan di kekang dengan kekuatan para pemimpin. Kekuatan yang dimiliki oleh penguasa pada masa itu menjadikan perjuangan pemuda menjadi terisolasi, tidak dapat memperjuangkan hak-hak mereka dalam kehiddupan bernegara. Kekuatan yang dilakukan oleh pemimpin yang tidak mempunyai semangat pemuda, pada akhirnya kalah dengan semangat pemuda yang masih dimiliki oleh kaum muda. Mahasiswa yang menjadi agen perubahan, mencari momentum yang tepat untuk melaksanakan semangat pemudanya. Hingga pada akhirnya ketika krisis multidimensional (kejujuran, kepercayaan, ekonomi, sosial) menjadi indikator untuk kaum muda (mahasiswa) untuk melakukan perubahan, meskipun harus mengkorbankan nyawa. Hingga pada akhirnya mereka behasil menegakakan ‘Paku Bumi’ Reformasi pada tahun 1998.
Reformasi telah berumur sepuluh tahun, namun peran pemuda pada kepemimpinan masyarakat masih menjadi tanda tanya besar. Hingga pada dua –tiga tahun terakhir ini issue pemimpin muda di angkat kedalam dunia perpolitikan, namun tetap pemuda-pemuda yang muncul di dunia perpolitikan itu tidak dapat mengintrepetasikan keadaan pemuda dalam kepemimpinan di kehidupan sosial masyarakat. Kepemimpinan pemuda dalam masyarakat sekarang kurang berani dalam melakukan perubahan. Itulah semangat pemuda, semangat peerubahan yang seharusnya tetap memegang aspek historis bangsanya. Sehingga semangat perjuangan pemuda dapat terus berlanjut ke generasi berikutnya dengan melihat suritauladan yang menjadi panutan dalam memimpin di masyarkat sosial.
Kurangnya suritauladan menjadikan peranan pemuda di Indonesia tergerus oleh perjalan waktu. Organisasi pemuda di Indonesia sudah terbukti dapat menjadikan peranan pemuda menjadi garis depan dalam perjuangan bangsa Indonesia maupun kepemimpinan Indonesia dalam rangka mengisi kemerdekaan. Jika ditinjau dari masa ke masa, organisasi kepemudaan di Indonesia juga ikut tergerus oleh arus waktu yang kian cepat berlalu sesuai dengan globalisi. Suatu ironi jika tredapatt organisasi kepemudaan, namun tidak dapat menyulut semangat pemuda Indonesia untuk membangun lingkungan sekitar. Hal tersebut merupkan reliata yang hingap di organisasi kepemudaan di Indonesia seperti perkembangan pramuka dan karang taruna yang ada di Indonesia.
Review kebelakang pelatihan kepemimpinan pemuda di masyarakat pada dasarnya sudah ada sejak dahulu. Pelatihan tersebut bagaikan rumah yang ditingal penghuninya, Karang Taruna yang menjadi tonggak pemuda dalam memajukan desanya, kini tinggal namanya dan hanya menjadi ajang reuni untuk kaum tua mengingat kejayaan Karang Taruna. Pramuka yang merupakan tempat pelatihan calon pemuda yang ungul disegala kondisi, sekarang hanya menjadi suatu tempat calon pemuda mengingat masa kecilnya. Hanya belajar bernyanyai, bertepuk tangan dan bermain di sekitar perumahanya. Maka tidak akan mengherankan pemuda jebolan Karang Taruna dan Pramuka sekarang merupakan pemuda yang lemah dan tidak berani melakukan perubahan dalam masyarkat sosial.
Tujuan diadakanya organisasi pramuka dan karang taruna merupakan memberdayakan seluruh potensi yang ada pada calon pemuda dan para pemuda sendiri. Diperlukan suatu perombakan kurikum organisasi kepemudaanyang telah ada dengan menyesuaikan perkembangan teknologi dan dunia, agar organisasi tersebut dapat melahirkan generasi pemuda yang dapat memberiikan perubahan dan suritauladan bagii generasi berikutnya.
Pramuka yang sejak tahun 1961 telah ada di Indonesia merupakan organisasi yang mengajarkan bagimana pemuda dapat bertahan dalam kondisi manapun. Rencana pikiran ini dapat diperluas bahwa organisasi pramuka tidak hanya mengajarkan bagaimana bertahan dihutan ataupun di dunia liar, selain itu dapat diperluas bagaimana pemuda menempatkan diri dalam masyarakat sosial, masyarakat politik, masyarakat negara dan masyarakat dunia pada umumnya.
Oleh karena itu pramuka di tengah modernitas harus juga mengenalkan bagaimana perkembangan teknologi, dan memberikan bekal bagaimana hidup berdampingan dengan masyarkat sosial, masyarakat yang peduli negara, lingkungan dan isue isue yang berkembang di dunia karena pada hakeketnya pemuda pramuka merupakan pemuda yang tangap terhadap lingkungan sekitar dan kondisi dunia. Maka perlu semangat pemuda untuk menjadi agen perubahan dalam pramuaka untuk pemuda Indonesia, yang nantinya akan memberikan pendidikan bagaimana menjadi pemimpin yang bijaksana dalam memimpin Indonesia,karena sudah mengenal kepribadian Indonesia namun mengikuti perkembangan dunia, sehingga dapat bersaing dengan pemuda dari penjuru dunia.
Karang Taruna merupakan salah satu aplikasi dalam masyarakat bagaimana pelajaran yang diperoleh di pendidikan formal ataupun organisasi kepemudaan lainya untuk membangun lingkunagan terdekatnya. Dimulai dari lingkungan terdekatnya diharapkan akan memberikan stimulus kepada pola pikir masyarakat bagaimana untuk membangun kesejahteraanya sendiri tidak bergantung kepada siapapun, termasuk pemerintah. Dengan kembali hidupnya karanga taruna di manapun daerahnya diharapkan dapat meningkatkan produktivitas disegala sektor, termasuk politik praktis di lingkungan sekitarnya.
Saya yakin kepemimpinan pemuda dalam sosial kemasyarakatan, khususnya lingkungan terkecil akan berdampak pada dirinya sendiri dan lingkungan sekitar pada khususnya. Perlu juga diingat disini jaman perjuangan telah usai, sekarang waktunya pemuda berperan dalam masyarkat untuk memajukan lingkungan sekitar dan negara pada umumnya. 

Anda sedang membaca artikel/Berita tentang Menoupose dalam Organisasi Pemuda dan anda bisa menemukan artikel/Berita Menoupose dalam Organisasi Pemuda ini dengan url http://www.kembanglatar.org/2010/04/menoupose-dalam-organisasi-pemuda.html,anda dapat menyebar luaskannya jika artikel/Berita Menoupose dalam Organisasi Pemuda ini sangat bermanfaat bagi anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Menoupose dalam Organisasi Pemuda sebagai sumbernya.

Artikel Terkait

Foto Kegiatan

Info Kembang Latar

More Article »

Gallery Foto

More Article »

Motto Kembang Latar

Berita Umum

More Article »

Counter