Sepak Terjang FPI | FPI dibenci tetapi dirindui,selalu disudutkan tetapi dibutuhkan

Thursday, June 7, 2012 ·

Front Pembela Islam (FPI) kembali menjadi sorotan. Bukan cuma di Indonesia, tetapi di dunia. Betapa tidak, ormas Islam ini berhasil membubaran diskusi buku pegiat feminis lesbian Irshad Manji di Salihara pada 4/5/2012. Terakhir, FPI dianggap penyebab batalnya konser Lady Gaga di Stadion Gelora Bung Karno pada 3 Juni 2012 mendatang.

Dua aktivitas tersebut membuat FPI kembali dicitrakan sebagai ormas anarkis oleh sebagian masyarakat, termasuk para politikus. Mereka tidak lagi melihat dampak yang akan terjadi, tetapi apapun alasannya FPI dianggap sebagai ormas anarkis. Ormas yang membelenggu kebebasan berdiskusi, mengeluarkan pendapat, berekspresi, dan lain sebagainya.

di saat FPI dipojokkan dengan citra ormas anarkis, seorang anggota FPI bernama Mustofa (36) tewas dibacok (6/5/2012). Ia yang dikenal sebagai Kordinator FPI Wilayah Cisarua dan Megamendung terkena sabetan celurit saat berusaha melerai tawuran antar warga di Jalan Raya Tajur, Warung Pala, Kelurahan Muliasari, Kecamatan Bogor Selatan, Bogor.


Bagi mereka yang benci FPI, berita tewasnya Mustofa tidaklah penting. Barangkali buat mereka, korban yang tewas setelah dikeroyok dan dianiaya dengan senjata tajam, tidak populer. Pun oleh media bukan menjadi headline news. Para pembenci FPI lebih suka mengangkat isu kedzoliman FPI pada Irshad Manji yang jelas-jelas telah menghina agama Islam. Atau isu Iblis Gaga. Sungguh tak berimbang.

Ketika terjadi aksi sejumlah mahasiswa yang merubuhkan pagar di gedung DPR atau lempar-lemparan batu, tak ada warga masyarakat yang berani mencap Universitas anarkis bagi mahasiswa yang melakukan demo atau tawuran itu. Atau ketika terjadi demo buruh yang menutup jalan tol atau fasilitas publik lain, tak ada warga masyarakat atau para politikus yang mencitrakan perusahaan dari para buruh itu anarkis.

bagi sebagian orang, anarkis hanya untuk FPI. Itulah persepsi yang ditumbuhkan oleh mereka yang berfaham Liberalis, sehingga menimbulkan kebencian. Apapun yang dilakukan mahasiswa atau buruh, meski jelas-jelas melakukan tindakan anarkis, mereka tidak dianggap sebagai Universitas anarkis atau buruh anarkis. Namun jika sudah membawa atribut agama, semua ormas akan dianggap anarkis. Sungguh tidak seimbang.

selama ini berita-berita tentang Front Pembela Islam (FPI) yang dimunculkan ke masyarakat, selalu saja berkisar tetang aksi penggrebekan maupun pembubaran paksa. Meski aksi penggerebekan itu dilakukan pada tempat-tempat maksiat, FPI tetap salah. Begitu pula ketika pembubaran Irshad Manji atau konses waria, yang jelas-jelas merupakan tindakan mencegah kemunkaran. Jadi, apapun yang dilakukan FPI, pasti akan dianggap negatif, anarkis, dan kasar.

Berikut ini sejumlah fakta yang saya kumpulkan untuk mengimbangi pemberitaan yang tidak seimbang terhadap FPI. Saya yakin, tak semua pembaca mengetahui aktivitas yang dilakukan FPI di bawah ini. Jika pun ada yang tahu, mereka para pembenci FPI tetap menganggap aktivitas non-anarkis ini tidak penting.

7 Januari 2002
DPP-FPI mengeluarkan fatwa haram bagi Pemerintah untuk memungut pajak dari rakyat kecil, menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), Tarif Dasar Listrik (TDL), dan Pulsa Telepon, serta menyusutkan dana pelayanan masyarakat lainnya selama korupsi tidak diberantas.

14 Maret 2003
Laskar FPI siap bantu Wartawan yang diintimidasi “Orang-Orang” Tommy Winata.

19 September 2003
DPP-FPI bersama Laskar FPI, Ormas Islam dan istri aktivis yang diculik mengadakan aksi di Mabes Polri dengan tema Stop Penculikan.

3 Oktober 2004
FPI mendatangi pekarangan Sekolah Sang Timur dan memerintahkan para suster agar menutup gereja dan sekolah Sang Timur. Front Pembela Islam (FPI) menilai orang-orang Katolik telah mempergunakan ruang olahraga sekolah sebagai gereja, yang sudah digunakan selama sepuluh tahun.

26 Desember 2004
Terjadi Bencana Tsunami di Nangroe Aceh Darussalam, FPI segera mengirimkan sukarelawan. Dimana di Aceh ini FPI mendapat nama harum sebagai sukarelawan yang paling bertahan dan bersedia ditugaskan di daerah-daerah yang paling parah, termasuk menjaga kesucian Mesjid Raya Baiturrahman, Aceh.

28 Mei 2006
FPI tiba di Yogyakarta dan membantu para korban gemba Jogja. Posko FPI dengan 120 relawannya terletak di sebelah barat pintu masuk lapangan, sedang posko HTI di pojok barat-utara lapangan. Ust Drajat, penanggung jawab Posko HTI di Segoroyoso tersebut menerangkan, HTI dan FPI telah bekerjasama mendirikan Tenda Sahabat. Tenda yang berfungsi mulai Jumat (2/06) ini dimaksudkan untuk memberikan berbagai pelayanan kepada masyarakat setempat.
25 Januari 2007
Ratusan orang anggota FPI, yang dipimpin oleh Habib Rizieq, mendatangi markas Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk meminta dilakukannya investigasi terhadap serangan yang dilakukan Polri di kawasan Tanahruntuh, Poso, Sulawesi Tengah beberapa hari sebelumnya.

27 Maret 2009
Relawan Kemanusiaan FPI Nasional pada hari Jum’at sekitar jam 08.30 WIB langsung turun ke tempat tempat kejadian Bencana Situ Gintung, tepatnya pada sebuah Masjid Jabalur Rahmah yang terendam lumpur sepinggang orang dewasa. Mesjid yang satu-satunya bangunan yang masih berdiri kokoh bertempat tepat di mulut tanggul Situ Gintung. Sementara ratusan rumah disekelilingnya yang juga terbuat dari tembok telah rata dengan tanah, tersapu oleh terjangan air bah akibat jebolnya tanggul Situ Gintung. Relawan Kemanusiaan FPI membuka Posko tepat di masjid tersebut yang fokus bekerja untuk mengevakuasi jenazah yang tertimbun maupun membantu relawan lainnya.

8 September 2009
Puluhan massa dari Front Pembela Islam (FPI) Subang, menggelar aksi sosial penggalangan dana bantuan untuk korban gempa bumi Tasikmalaya. Aksi sosial anggota FPI ini, dilakukan di perempatan atau di bawah jembatan layang (fly over) Pamanukan.

5 Oktober 2009
FPI membantu korban gempa di Padang. FPI ikut membantu korban gempa di Padang dan sekitar dengan menyediakan relawan. Irwan, salah satu pengurus harian FPI berujar, “FPI telah memberangkatkan relawan sebanyak 4 mobil.”

28 Oktober 2010
Musibah Bencana yang terjadi di Mentawai dan Merapi mengakibatkan banyak korban, ratusan orang menjadi korban tak terkecuali juru kunci mbah Maridjan. Duka dirasakan seluruh rakyat Indonesia, bantuan dari berbagai pihak berdatangan dilokasi bencana. Tak ketinggalan ormas Front Pembela Umat Islam (FPI) menggalang solidaritas kemanusian untuk membantu para korban. Kami membuka posko bantuan dan relawan untuk 3 lokasi, yaitu untuk bencana Tsunami di Mentawai, bencana gunung Merapi di Jogja dan siaga Banjir di Jakarta,” ujar Koordinator Siaga Bencana FPI, Ustadz Mamam. Ustadz Maman menambahkan, lebih dari 300 anggota DPD FPI Jogjakarta sudah terjun mengirimkan bantuan dan membantu evakuasi korban, serta pembersihan debu di masjid-masjid. Selain itu, segera menyusul relawan dan bantuan dari wilayah FPI Tasikmalaya, Jawab Barat dan DKI Jakarta. “Kami membuka posko bantuan dan relawan untuk 3 lokasi, yaitu untuk bencana Tsunami di Mentawai, bencana gunung Merapi di Jogja dan siaga Banjir di Jakarta,” ujar Koordinator Siaga Bencana FPI, Ustadz Mamam.

14 Desember 2011
FPI kawal korban Mesuji untuk mencari keadilan pada penampu kebijakan. Para korban kekejian aparat tersebut didampingi oleh Ketua Umum DPP Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab beserta Badan Hukum Front (BHF) dan Laskar FPI. Ahmad Hanafi SH, salah seorang advokat BHF FPI mengatakan, para korban Mesuji ditampung di Wisma FPI, di Jalan Petamburan III. “Sudah seminggu mereka, bermalam di dekat markaz FPI. Mereka betul-betul meminta perlindungan, karena itu kami sediakan tempat di sana,” kata Ahmad.

19 Desember 2011
Tim Investigasi Front Pembela Islam (FPI) yang dipimpin oleh Ustadz Machsuni Kaloko mengabarkan, puluhan bendera FPI berkibar di gubuk-gubuk dan tenda darurat pengungsian warga korban Mesuji, Lampung. Dikabarkan pula, warga menolak masuknya bendera-bendera partai politik di area pengungsian itu. “Itulah salah satu sebab yang menyebabkan tim gabungan pencari fakta komisi III DPR, yang didominasi oleh fraksi-fraksi partai di DPR menjadi gerah berlama-lama di zona pengungsian,” demikian SMS dari salah seorang aktivis FPI yang berada di Mesuji sejak dua hari yang lalu.

ini hanya sebagian saja dari sekian banyak aksi FPI yang slalu di tutup tutupi oleh media electronik maupun cetak. (sumber : http://ikrimna.hourb.com)

Anda sedang membaca artikel/Berita tentang Sepak Terjang FPI | FPI dibenci tetapi dirindui,selalu disudutkan tetapi dibutuhkan dan anda bisa menemukan artikel/Berita Sepak Terjang FPI | FPI dibenci tetapi dirindui,selalu disudutkan tetapi dibutuhkan ini dengan url http://www.kembanglatar.org/2012/06/sepak-terjang-fpi-fpi-dibenci-tetapi.html,anda dapat menyebar luaskannya jika artikel/Berita Sepak Terjang FPI | FPI dibenci tetapi dirindui,selalu disudutkan tetapi dibutuhkan ini sangat bermanfaat bagi anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Sepak Terjang FPI | FPI dibenci tetapi dirindui,selalu disudutkan tetapi dibutuhkan sebagai sumbernya.

Artikel Terkait

Foto Kegiatan

Info Kembang Latar

More Article »

Gallery Foto

More Article »

Motto Kembang Latar

Berita Umum

More Article »

Counter