Etika Politik dan Politik Beretika | Rumitnya Sistem Hukum dan Perpolitikan Di Negeri Ini

Thursday, February 28, 2013 ·

Jakarta - Sinetron untuk menguak teka-teki menguapnya dana triliunan rupiah Bank Century belum mencapai episode akhir. Teka-teki itu mencerminkan betapa rumitnya sistem hukum dan perpolitikan di negeri ini.

Tentu saja sutradara belum menentukan akan seperti apa akhir dari drama epik yang membawa hajat hidup orang banyak ini. Apakah akan happy ending ataukah akan berakhir dengan tragis dan penuh dengan air mata.

Namun, yang menarik untuk disampaikan adalah betapa wakil rakyat yang tergabung dalam panitia khusus (Pansus Century) berusaha untuk menjadi pahlawan dalam mengungkap skandal terbesar tahun 2009 tersebut. Para anggota pansus bertindak bak Jaksa Penuntut Umum (JPU) guna mengurai benang kusut kasus berulang tersebut.

Kenapa kasus berulang. Karena, memang ternyata kasus tersebut bukanlah yang pertama kali terjadi di negeri ini. Misalnya saja kasus "dirampoknya" BNI 46 sepuluh tahun silam dengan akhir episode yang tidak jelas. Dan, anehnya lagi, ternyata kejadian sepuluh tahun silam juga terungkap setelah pemilu damai berhasil dilaksanakan. Sungguh ironi.

Pada salah satu episode Pansus Century, begitulah kira-kira saya menyebut drama hukum yang satu ini, salah satu "artis" dengan dialog yang cukup tertata dengan baik mengungkapkan dengan baik bagaimana celah kasus hukum tersebut. Namun, yang perlu disayangkan adalah bagaimana perilaku dari si artis tersebut dalam mengemukakan pendapatnya.

Sudah sepatutnya, dan sudah menjadi etika umum juga, bagaimana seharusnya sikap kita ketika orang yang kita ajak bicara mengemukakan pendapatnya. Tentunya dengan logika sederhana, dan etika umum yang berlaku, kita perlu untuk mendengarkan pendapat lawan bicara tersebut.

Namun, yang terjadi ketika itu, bagaimana sikap si artis tadi yang seolah menjadi orang yang paling benar. Dia tidak memperdulikan bagaimana jawaban dari si lawan bicara. Si artis tadi hanya ingin mengungkapkan apa yang ada di pikirannya saja. Dengan tidak memperdulikan apa yang dijawab oleh si lawan bicara. Ketika jawaban pun dilayangkan, kemudian dicecar dengan pertanyaan berikutnya sebelum jawaban sebelumnya selesai dilayangkan.

Contoh di atas tentunya bukanlah sensasi yang ingin dilakukan oleh si artis tadi. Contoh di atas pula bukanlah yang pertama dan terakhir yang terjadi dalam kontes politik di negeri ini.

Bukan menjadi rahasia umum lagi, ketika bersidang pun, para "artis politik" tersebut perlu untuk berjibaku. Saling hantam hanya untuk mengeluarkan bahwa memang pendapat mereka perlu didengarkan. Sebuah ironi memang. Logika yang terbalik atau bahkan terabaikan. Bagaimana pun kita perlu mendengarkan apa isi dari perkataan orang lain ketika memang pendapat kita ingin didengarkan pula.

Sikap untuk mendengarkan agaknya perlu dipelajari terlebih dahulu oleh para "artis politik" tersebut. Bukankah Allah SWT memberikan dua telinga untuk mendengarkan bila dibandingkan hanya satu mulut untuk berbicara.

Seperti memang tujuannya adalah bahwa kita diminta untuk sering-sering mendengarkan daripada banyak berbicara. Bahkan, Rasulullah SAW pun menganjurkan kepada kita untuk berbicara hal-hal yang berguna saja. Atau lebih baik diam daripada membicarakan sesuatu yang tidak bernilai tambah.

Selain mendengarkan etika yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menanggapi pendapat atau bantahan dari lawan bicara kita. Lagi-lagi mengambil contoh dari episode sinetron Pansus Century. Bagaimana kebanyakan orang yang memang awam dengan politik disuguhkan adegan yang tidak mengindahkan etika.

Si "artis politik" berusaha mengeluarkan pendapatnya dengan memotong pendapat si lawan bicara. Tentu saja hal ini memberikan kesan bahwa tanpa kehadiran si lawan bicara pun pembicaraan sebenarnya sudah usai karena memang setiap pendapat yang diungkapkan oleh lawan bicara mental tanpa mendapatkan respon yang cukup baik dari si artis politik tadi.

Namun, ada pelajaran yang menarik dari adegan ini. Si lawan bicara tadi dengan sangat sabar melayani setiap cecaran pertanyaan si artis politik. Tentu saja untuk kebanyakan orang hal ini sangat sulit untuk dilakukan.

Dengan cecaran pertanyaan yang memojokkan, bagaimana pun dengan watak asli seorang manusia, orang tentu akan berusaha untuk membela diri dan berontak untuk menyatakan bahawa memang dirinya benar, tidak bersalah.

Terkadang logika berfikir pun didobrak ketika perasaan terpojok tersebut mencapa titik kulminasi. Namun, yang terjadi pada si lawan bicara tadi sungguh di luar dugaan. Ia dengan sabar melayani setiap pertanyaan dengan baik.

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah apakah memang etika untuk berpolitik santun tersebut telah hilang. Jawaban dari pertanyaan tersebut perlu dijawab dengan langkah nyata. Bagaimana kita bersikap dan berpolitik santun.

Sebagai penikmat sinetron tentunya kita berharap episode sinetron Pansus Century tersebut berakhir dengan happy ending dan memberikan teladan kepada kita bagaimana berpolitik yang santun itu. Semoga saja.

Solehudin Murpi
Jl Tubagus Ismail VIII no 62 A Bandung
murpi219@yahoo.co.id
02291534628
Mahasiswa Teknik Industri Institut Teknologi Bandung
Peserta Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS-Nurul Fikri).

Anda sedang membaca artikel/Berita tentang Etika Politik dan Politik Beretika | Rumitnya Sistem Hukum dan Perpolitikan Di Negeri Ini dan anda bisa menemukan artikel/Berita Etika Politik dan Politik Beretika | Rumitnya Sistem Hukum dan Perpolitikan Di Negeri Ini ini dengan url http://www.kembanglatar.org/2013/02/etika-politik-dan-politik-beretika.html,anda dapat menyebar luaskannya jika artikel/Berita Etika Politik dan Politik Beretika | Rumitnya Sistem Hukum dan Perpolitikan Di Negeri Ini ini sangat bermanfaat bagi anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Etika Politik dan Politik Beretika | Rumitnya Sistem Hukum dan Perpolitikan Di Negeri Ini sebagai sumbernya.

Artikel Terkait

Foto Kegiatan

Info Kembang Latar

More Article »

Gallery Foto

More Article »

Motto Kembang Latar

Berita Umum

More Article »

Counter