Koruptor: “Preman Berdasi?” | “Preman” di sini mengandung pengertian “peyoratif” alias negatif

Wednesday, April 17, 2013 ·

Replubika.co.id
Koruptor: “Preman Berdasi?”

“Preman” di sini mengandung pengertian “peyoratif” alias negatif. Kita bisa meng-asosiasikan kata “preman” dengan sifat keras, kasar, liar, buas dan seterusnya.

Premanisme telah menjadi budaya di Indonesia. Orang mungkin bisa melacaknya dari tradisi masa lampau. Kita mengenal jawara di Banten, centeng di Betawi, pendekar di Sunda, To Wa’rani di Bugis, dan seterusnya. Tapi mereka adalah para pembela kebenaran, bukan seperti tradisi ‘Bandit ‘di Amerika Latin atau Mafia di Itali, misalnya.

Karena itu kata yang digunakannya pun preman, yang berakar dari tradisi kolonial. Mereka adalah orang-orang yang diasosiasikan lekat dengan banditisme. Premanisme makin mengakar dan memassal di masa kelam sejarah Indonesia, rezim Orde Baru. Preman menjadi bagian dari mesin politik dan alat kekuasaan. Mereka menjadi penopang sistem politik yang represif, penguasa lalim, dan birokrat serta manusia-manusia korup dan pemakan bangkai sesama. Mereka dipakai oleh partai politik, intelijen, polisi, tentara, birokrasi, penguasa, bahkan ormas dan orang-orang kaya. Organisasi-organisasi tempat berhimpun para preman pun menjamur. Hal ini hanya membuktikan bahwa premanisme makin menjadi realitas sosial yang ‘diterima’.


Dari jalur kelembagaan dan struktur preman ini kemudian memunculkan para tokoh preman yang berevolusi seolah-olah ‘manusia baik-baik’. Mereka tak lagi diimajinasikan jarang mandi, kumis melintang, batu akik memenuhi jari, gelang dan kalung besar, sabuk besar bertahta logam mengkilat, dan seterusnya. Mereka seperti manusia kebanyakan; bahkan dermawan. Mereka ada yang menjadi anggota legislatif, bupati, pengusaha papan atas, tokoh ormas, pengacara, birokrat, bahkan dekat dengan simbol-simbol agama. Mereka inilah sejenis preman yang berada di puncak gunung es banditisme. Padahal di baliknya tetaplah ‘preman’: hidup dari barang najis dan peminum darah manusia.

Karena itu, jika kemudian pers menulis soal premanisme, ibarat mencari pasir di pantai. Namun kuatnya mereka membuat kaum preman sangat percaya diri, dan merasa sah. Kita tak berani menolak saat dipalak, kita pasrah saat diperas, dan kita menerima kenyataan bahwa bandit menjadi pemenang, serta kemalasan berbalaskan kelimpahan harta dan kuasa. Sistem sosial dan sistem nilai kita menjadi jungkir balik. Kerja keras, tekun, jujur, disiplin, pantang menyerah, dan fair seolah menjadi nilai-nilai asing dan usang. Generasi muda yang tak mampu sekolah lebih suka menjadi bagian dari realitas itu, generasi muda yang pandai namun tipis iman lebih memilih meniti jalur preman untuk menuju puncak. Tak peduli premanisme menghancurkan bangsa dan negara, merusak keluarga dan moralitas kita. Nilai-nilai premanisme bahkan telah menyebar ke kamar-kamar sosial lainnya: wartawan, birokrat, ulama, politisi, pengusaha, pengacara, dokter, polisi, tentara, hakim, dan semuanya. Premanisme telah menjadi virus. Premanisme memang bagian dari fakta sosial yang ikut meruntuhkan negeri ini ke dalam jurang krisis berkepanjangan. Sejarah bangsa kita sebagai bangsa pejuang seolah tak pernah kita kenal.

Di masa reformasi ini, kita hendak menata kembali sistem sosial, budaya, politik, dan sistem ekonomi kita. Semuanya kita benahi agar kita tidak menjadi serigala bagi yang lainnya, agar kita bisa beranjak maju. Hanya jalur beradab yang bisa menegakkan peradaban. Sudah saatnya pemerintah juga memfokuskan perhatiannya pada pembasmian premanisme hingga ke akar-akarnya. Vietnam memulai langkahnya dengan menghukum mati tokoh nomor satu preman di negeri itu, walaupun sebagai tentara  ia telah berjasa besar dalam perang perjuangan. Italia bisa mengejar ketertinggalannya dari negeri-negeri Eropa lainnya dengan menembaki gembong-gembong mafianya. Untuk kembali membangkitkan kejayaan negerinya, Vladimir Putin, presiden Rusia, mengejar para preman negeri itu bak membasmi tikus. Nah bagaimana dengan Indonesia? Setiap ada yang menyiapkan mesiu bagi pembasmian preman ibarat menggali lahan kematian bagi dirinya. Pers dan orang-orang baik di masyarakat kita, sehari-hari menjadi korban keganasan preman. Di mana aparat kita? Tanyakan, mengapa lampu kantornya bisa menyala.

Konon, di sebuah ‘Kafe’ di kota Jogja, ada empat orang anggota Kopassus diserbu para preman. Mereka melukai para prajurit itu, dan salah seorang dari prajurit Kopassus itu menemui ajalnya. “Naif!” Nah, kalau sudah begini, ‘kini’, sudah saatnya kita berteriak: “Hentikan premanisme dengan cara yang benar!”. Jangan bilang bahwa mereka adalah para Robinhood atau Si Pitung Kontemporer. Robinhood memang memiliki kelemahan, Si Pitung mungkin membunuh juga, tapi mereka bukanlah ‘bandit’. Mereka adalah Martir, Pahlawan bahkan mungkin bisa disebut sebagi ‘Dewa Penolong’ bagi kaum pinggiran, dhu’afa’ dan mustadh’afin. Akui saja bahwa ‘premanisme’ adalah virus dan menghancurkan.

Kita percaya bahwa kepala Polri adalah pribadi yang teguh untuk membasmi kejahatan. Kita berharap, pembasmian premanisme termasuk prioritas utama. Premanisme mungkin bisa sebahaya korupsi. Koruptor — katanya — tak memiliki organisasi, koruptor juga tak memiliki pemimpin. Sedangkan preman memiliki organisasi dan pemimpin. Jangan pernah meremehkan daya rusak premanisme.

Atau, jangan-jangan para koruptor pun sekarang sudah bersatu menjadi preman-preman yang terkoordinasi, Alias ‘Preman-preman Berdasi’?

Na’ûdzubillâhi min dzâlik!

Anda sedang membaca artikel/Berita tentang Koruptor: “Preman Berdasi?” | “Preman” di sini mengandung pengertian “peyoratif” alias negatif dan anda bisa menemukan artikel/Berita Koruptor: “Preman Berdasi?” | “Preman” di sini mengandung pengertian “peyoratif” alias negatif ini dengan url http://www.kembanglatar.org/2013/04/koruptor-preman-berdasi-preman-di-sini.html,anda dapat menyebar luaskannya jika artikel/Berita Koruptor: “Preman Berdasi?” | “Preman” di sini mengandung pengertian “peyoratif” alias negatif ini sangat bermanfaat bagi anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Koruptor: “Preman Berdasi?” | “Preman” di sini mengandung pengertian “peyoratif” alias negatif sebagai sumbernya.

Artikel Terkait

Foto Kegiatan

Info Kembang Latar

More Article »

Gallery Foto

More Article »

Motto Kembang Latar

Berita Umum

More Article »

Counter