Memahami Arti Politik "Politik Itu Rumit dan Kompleks"

Monday, May 20, 2013 ·

MEMAHAMI ARTI POLITIK

Fisikawan terkemuka dunia, Albert Einstein pernah mengatakan bahwa politik lebih sukar daripada fisika. Bagi saya pernyataan tersebut cukup mengejutkan mengingat reputasi Einstein dalam ilmu pengetahuan tak mungkin diragukan lagi. Kitapun sama-sama mafhum bahwa ilmu fisika karena kesukaran ilmunya seringkali menjadi momok yang menakutkan bagi para siswa, termasuk tentunya bagi penulis sewaktu menjadi pelajar sekolah menengah bertahun-tahun lampau. 

Benarkah politik itu sukar? Adalah Prof. Dr. Nazaruddin Syamsuddin mantan Ketua KPU periode 2002-2007 dan Guru Besar Ilmu politik UI yang menyatakan bahwa politik itu rumit dankompleks. Kerumitan dan kompleksitas ini terjadi karena adanya berbagai faktor yang secara langsung maupun tidak langsung terkait dengannya. Bahkan politik akan semakin pelik jika faktor-faktor tadi saling berkaitan dalam berbagai cara dan mengalami pergerakan serta perubahan yang sangat cepat, dinamis, kadang tak berpola dan unpredictable



Bila dalam ilmu fisika variabel yang berpengaruhnya relatif konstan dan terukur, tidaklah demikian dengan ilmu politik karena subjeknya manusia dengan perilaku dan kepentingan yang melekat dalam dirinya, maka variabel-variabel itupun bergerak sesuai hasrat dan keinginannya yang beraneka rupa, seringkali tidak terkontrol dan tidak bersifat konstan seperti dalam fisika. Melihat gejala ini, kiranya bisa dipahami bila ada beberapa ilmuwan eksakta yang beranggapan bahwa politik bukanlah merupakan cabang ilmu (science) tapi hanya sebuah seni taktik belaka (art)

Asal Muasal
Kata politik itu sendiri sesungguhnya berasal dari bahasa Yunani “polis” yang berarti negara kota. Pada waktu itu kota-kota seperti Athena dan Sparta di zaman Yunani Kuno dikelola secara khusus oleh suatu sistem politik dan pemerintahan yang mempunyai kedaulatan yang penuh. Semula sistem dan nilai politik dirumuskan oleh para filsuf sehingga ilmu politik itu sendiri pada periode-periode awal pembentukannya bersifat filosofis dan normatif. Para filsuf pada masa ini berpikir secara keras dan mendalam untuk mencari kebenaran dalam kaitannya dengan penataan negara serta hubungan timbal balik dengan warga negaranya. Karena berasal dari filsafat maka politik itu sendiri selalu dirumuskan dengan penuh norma, seperti Aristoteles merumuskan politik sebagai “Usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama”.
Namun seiring dengan tumbuhnya negara dengan berbagai variasi sistem politik yang melingkupinya, maka pengetahuan politik pun tidak lagi dibangun atas landasan filsafat yang kukuh, tapi lebih disandarkan pada “serangkaian pengalaman”. Pada periode ini teori politik tidak lagi bersifat filosofis dan normatif tapi lebih bersifat empiris dan bebas nilai. Rangkaian fenomena dan fakta politik oleh para ilmuwan dikumpulkan, diklasifikasikan, dihubungkan satu sama lain, diuji di lapangan dan selanjutnya dirumuskan ke dalam suatu teori yang sekarang lazim disebut sebagai “Teori Politik Modern”. 

Politik = Kekuasaan?
Seringkali kita mendengar bahwa motif seseorang atau sekelompok orang berpolitik adalah untuk mencari kekuasaan. Pernyataan tersebut tidaklah salah, namun tidak juga sepenuhnya benar. Bila ada aktor politik yang menyatakan bahwa dia berpolitik tidak untuk mencari kekuasaan melainkan murni pengabdian tulus kepada bangsa dan negara, mungkin dia sedang gombal. Kekuasaan atau power adalah insentif terbesar bagi seseorang dalam berpolitik, hal ini tentunya sebangun dengan motif pengusaha yang selalu mengejar keuntungan berupa bertambahnya uang dan kapital perusahaan. 

Namun memaknai politik hanya sebatas urusan kekuasaan tentunya mereduksi makna politik itu sendiri. Motif kekuasaan dalam berpolitik mestinya dijadikan tujuan antara, demi mencapai tujuan yang lebih luhur dan mulia yakni mewujudkan negara dan masyarakat yang lebih berkeadaban, atau dalam rumusannya Aristoteles: mewujudkan kebaikan bersama. Apakah negara berkeadaban dan kebaikan bersama itu selalu harus diwujudkan oleh instrumen kekuasaan? Jawabannya tentu saja tidak, sesungguhnya banyak upaya lain yang bisa dilakukan dalam mewujudkan “kebaikan bersama” tersebut yang tidak terkait dengan instrumen kekuasaan. Logika ini pulalah yang sering digunakan oleh para pengusung ideologi golput untuk tidak berpartisipasi dalam urusan politik karena mereka meyakini ada cara lain dalam upaya mewujudkan “kebaikan bersama” tersebut. Meskipun demikian, mengejar tujuan luhur negara tanpa melibatkan instrumen kekuasaan tentunya hanyalah utopia belaka. Dalam sejarah peradaban umat manusia, tercapainya suatu peradaban adiluhung sangat dipengaruhi oleh peranan kekuasaan negara. Sejarah mencatat kejayaan Kekaisaran Romawi, Persia, Imperium Islam, sampai terbentuknya negara-negara yang maju dan modern di abad sekarang semuanya merupakan wujud dari ekspresi kekuasaan atau dengan kata lain sebagai efek dari hasil kerja politik. Meski tanpa kekuasaan orang dapat membangun peradaban, namun sesungguhnya melalui instrumen kekuasaanlah peradaban itu dapat ditumbuhkembangkan dengan baik. Melalui tangan kekuasaanlah, kesejahteraan, kesehatan masyarakat, keluhuran budi pekerti, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan segenap peradaban umat manusia dapat ditingkatkan. Tegasnya, kekuasaan berperan sebagai “wakil Tuhan” di muka bumi dalam rangka mengelola dan memberdayakan segenap sumber daya demi keluhuran harkat dan martabat umat manusia. 

Lalu kenapa faktanya praktek politik sering pula melahirkan tragedi? Mungkin inilah kesalahan menginterpretasikan politik hanya sebagai urusan kekuasaan unsich. Politik tidak dimaknai sebagai: Kerja Politik Kekuasaan Kebaikan Bersama, seperti yang telah dijelaskan Aristoteles ribuan tahun silam. Atau barangkali bukan karena ketidakmengertian para aktor politik, tapi lebih karena pesona dari kekuasaan itu sendiri. Dalam sejarahnya, seperti halnya uang dan cinta, kekuasaan selalu saja menggoda umat manusia. Ah, Einstein ternyata benar, politik memanglah sukar. 

*) Penulis Yadi Erlangga adalah Sarjana Ilmu Politik alumni UNPAD

Anda sedang membaca artikel/Berita tentang Memahami Arti Politik "Politik Itu Rumit dan Kompleks" dan anda bisa menemukan artikel/Berita Memahami Arti Politik "Politik Itu Rumit dan Kompleks" ini dengan url http://www.kembanglatar.org/2013/05/memahami-arti-politik-politik-itu-rumit.html,anda dapat menyebar luaskannya jika artikel/Berita Memahami Arti Politik "Politik Itu Rumit dan Kompleks" ini sangat bermanfaat bagi anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Memahami Arti Politik "Politik Itu Rumit dan Kompleks" sebagai sumbernya.

Artikel Terkait

Foto Kegiatan

Info Kembang Latar

More Article »

Gallery Foto

More Article »

Motto Kembang Latar

Berita Umum

More Article »

Counter