Seminar Memperingati Hari Lahir Pancasila (26 Juni 2013)

Wednesday, June 26, 2013 ·

SEMINAR MEMPERINGATI HARI LAHIR PANCASILA

Banyak rakyat Indonesia, tak terkecuali pemuda, yang keliru memahami dan memaknai sejarah kebangsaan. Kejayaan Sriwijaya, kejayaan Majapahit yang menguasai kerajaan-kerajaan kecil di seluruh wilayah nusantara, kini hanya “dikenang” sebagai epos dan peristiwa usang.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang gigih, teguh, dan konsisten dalam perjuangan meraih kemerdekaannya, perjuangan untuk mewujudkan cita-cita luhur dengan membentuk tatanan pemerintahan demokratis, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Presiden Soekarno dalam Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tanggal 1 Juni 1945 pada acara perumusan Undang-Undang Dasar mengatakan “Negara Indonesia harus dibangun dalam satu mata rantai yang kokoh dan kuat dalam lingkungan kemakmuran bersama. Kebangsaan yang dianjurkan bukan kebangsaan yang menyendiri dengan hanya mencapai Indonesia merdeka, tetapi harus menuju pula pada kekeluargaan bangsa-bangsa menuju persatuan dunia. Internasionalisme tidak dapat hidup subur kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur kalau tidak hidup dalam taman sarinya internasionalisme”.



Makna yang terkandung dalam pidato tersebut, memberikan pesan kepada generasi penerus untuk bahu membahu membangun bangsa dalam kerangka persatuan. Melalui persatuan dan itikad bulat, segenap komponen bangsa akan menjadikan bangsa ini kukuh dan kuat. Dengan demikian, tujuan mewujudkan negara sejahtera sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar akan tercapai. Untuk mencapai tujuan tersebut, Bangsa Indonesia harus memiliki keyakinan diri, sanggup membela negaranya sendiri dan memiliki kekuatan yang nyata sebagai bangsa. Pada tingkatan sekarang, segenap komponen bangsa harus terlebih dahulu sadar akan kemampuan dan potensi yang dimiliki serta menyatupadukan segenap kehendak rakyat untuk mencapai tujuan membentuk negara sejahtera.

Pancasila sebagaimana tercantum pada Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah diterima dan ditetapkan sebagai dasar negara. Di dalam Pancasila itulah tercantum kepribadian dan pandangan hidup bangsa yang telah diuji kebenaran, keampuhan, dan kesaktiannya, sehingga tidak ada satu kekuatan manapun juga yang mampu memisahkan Pancasila dari kehidupan bangsa Indonesia.  Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa Pemerintah Negara Indonesia dibentuk untuk “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.” Maka, kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu disusun dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, penyebaran pemahaman yang utuh dan menyeluruh kepada generasi bangsa, terutama kaum generasi muda sebagai penerus bangsa untuk secara sadar memahami Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sangat diperlukan. Pemahaman yang komprehensif akan membantu masyarakat dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pilar adalah tiang penyangga suatu bangunan agar bisa berdiri secara kukuh. Bila tiang ini rapuh bangunannya pun akan rapuh dan bahkan mudah roboh. Empat tiang penyangga di tengah ini disebut soko guru yang kualitasnya terjamin sehingga pilar ini akan memberikan rasa aman, tenteram, dan perlindungan kepada rakyat Indonesia. Empat pilar itu pula, yang menjamin terwujudnya kebersamaan dalam hidup bernegara. Rakyat akan merasa aman terlindungi sehingga merasa tenteram dan bahagia. Empat pilar tersebut juga merupakan fondasi yang kita pahami bersama kukuhnya suatu bangunan sangat bergantung dari fondasi yang melandasinya.

Oleh sebab itu,  generasi muda harus terus digelorakan agar pemuda sebagai agen perubahan memiliki idealisme yang memiliki etika dan moral serta mengaktualisasikan nilai-nilai kebangsaan dalam hidup bermasyarakat melalui peningkatan kapasitas pemahaman empat pilar kebangsaan.

Bertolak dari permasalahan di atas, maka ORMAS KEMBANG LATAR tergugah untuk memberikan dan berbagi pemahaman secara mendalam kepada pemuda Indonesia, khususnya yang berada di wilayah administratif Jakarta Selatan dan pemuda se-Jabodetabek atau pemuda Megapolitan, mengenai empat pilar  kebangsaan. Ada pun acara tersebut dikemas dalam sebuah seminar yang menarik untuk menggugah dan meningkatkan daya tarik pemuda yang kian pesimis bahkan apatis terhadap nilai-nilai kebangsaan. 







Anda sedang membaca artikel/Berita tentang Seminar Memperingati Hari Lahir Pancasila (26 Juni 2013) dan anda bisa menemukan artikel/Berita Seminar Memperingati Hari Lahir Pancasila (26 Juni 2013) ini dengan url http://www.kembanglatar.org/2013/06/seminar-memperingati-hari-lahir.html,anda dapat menyebar luaskannya jika artikel/Berita Seminar Memperingati Hari Lahir Pancasila (26 Juni 2013) ini sangat bermanfaat bagi anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Seminar Memperingati Hari Lahir Pancasila (26 Juni 2013) sebagai sumbernya.

Artikel Terkait

Foto Kegiatan

Info Kembang Latar

More Article »

Gallery Foto

More Article »

Motto Kembang Latar

Berita Umum

More Article »

Counter